Waste4Change dan Pastiklola Layani Penjemputan Sampah Berbasis Aplikasi di Bandung

Waste4Change dan Pastiklola Layani Penjemputan Sampah Berbasis Aplikasi di Bandung

16 September 2026

PASTIKLOLA | Bandung — Masyarakat Kota Bandung kini memiliki pilihan baru untuk mengelola sampah rumah tangga. Waste4Change dan Pastiklola menjalin kerja sama operasional menghadirkan layanan pemesanan penjemputan sampah melalui aplikasi di Bandung.

Kolaborasi tersebut menghubungkan kemudahan pemesanan dan penjadwalan penjemputan secara digital dengan proses pemilahan serta pengolahan sampah di fasilitas Waste4Change. Dengan sistem ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada tahap pengangkutan, tetapi dilanjutkan hingga pemeriksaan, pemilahan, pemulihan material, dan pengolahan sesuai karakteristik sampah.

Peluncuran layanan ditandai dengan acara peresmian di Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, pada 16 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung Dadang Setiawan, Sekretaris Camat perwakilan Kecamatan Kiaracondong Hariande Bintang, serta perwakilan Kecamatan Batununggal.

Turut hadir akademisi dan dosen komunikasi lingkungan Telkom University Pradipta Dirgantara, Head of Business Development Waste4Change Hana Nur Auliana, serta CEO Pastiklola Salva Yurivan Saragih. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga membutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat.

pastiklola bandung

Pesan Penjemputan Sampah dari Ponsel

Melalui aplikasi Pastiklola yang tersedia untuk perangkat iOS dan Android, masyarakat dapat melakukan aktivasi layanan, mengatur jadwal penjemputan, serta memantau riwayat layanan melalui ponsel.

Setelah sampah dijemput, material dibawa ke fasilitas pengelolaan Waste4Change. Di fasilitas tersebut, sampah menjalani pemeriksaan dan pemilahan lanjutan sebelum diarahkan ke jalur pengolahan yang sesuai.

Sistem ini menjadi penting karena salah satu persoalan dalam kebiasaan memilah sampah dari rumah adalah munculnya kekhawatiran bahwa sampah yang sudah dipisahkan akan kembali tercampur setelah keluar dari rumah.

Melalui kerja sama tersebut, kedua perusahaan berupaya membangun alur pengelolaan yang lebih jelas, mulai dari sampah dipilah di rumah, dijemput, ditimbang dan dicatat, kemudian dipilah kembali hingga masuk ke proses pemulihan atau pengolahan.

CEO Waste4Change Mohamad Bijaksana Junerosano atau Sano mengatakan, kebiasaan memilah perlu didukung sistem yang memberikan kepastian mengenai perjalanan sampah setelah meninggalkan rumah.

“Kesadaran untuk memilah perlu didukung oleh sistem yang memberikan kepastian mengenai perjalanan sampah setelah meninggalkan rumah. Bersama Pastiklola, kami ingin menghubungkan kebiasaan memilah dengan layanan penjemputan yang mudah diakses serta proses pengolahan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Sano.

Dari Penjemputan hingga Pemilahan Sampah

Dalam skema kerja sama operasional ini, Pastiklola menangani aktivasi layanan, penjadwalan, penjemputan, pencatatan digital, hingga dukungan pelanggan melalui aplikasi.

Sementara itu, Waste4Change melanjutkan proses pengelolaan sampah setelah material dikumpulkan. Proses tersebut mencakup pemeriksaan, pemilahan lanjutan, serta pengolahan melalui fasilitas yang dimiliki perusahaan.

Sampah rumah tangga yang dijemput akan ditimbang dan dicatat dalam sistem. Material yang masih memiliki potensi pemanfaatan dipisahkan dan diarahkan menuju jalur pemulihan material maupun daur ulang.

Adapun jenis sampah lainnya ditangani berdasarkan karakteristik dan jalur pengolahannya.

Pemilahan lanjutan di fasilitas Rumah Pemulihan Waste4Change berfungsi sebagai pengendalian kualitas. Tahapan ini diperlukan untuk memastikan material dapat diarahkan menuju proses yang sesuai.

Meski demikian, masyarakat tetap memiliki peran penting. Pemilahan sejak dari rumah dapat membantu mengurangi kontaminasi dan mempertahankan potensi material untuk dimanfaatkan kembali.

Dengan kata lain, memilah sampah dari rumah bukan sekadar memisahkan sampah organik dan anorganik, tetapi menjadi bagian awal dari rantai pengelolaan sampah yang lebih panjang.

Mengapa Pemilahan dari Rumah Tetap Penting?

Kemudahan layanan penjemputan melalui aplikasi tidak berarti masyarakat dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pengelolaan kepada penyedia jasa.

Sebaliknya, pemilahan dari sumber tetap menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah. Sampah yang sudah dipisahkan dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke jalur pemulihan atau daur ulang.

Sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi setidaknya membutuhkan beberapa tahapan, yaitu:

  • Pemilahan dari rumah, untuk memisahkan material berdasarkan jenisnya.
  • Penjadwalan penjemputan, sehingga pengangkutan dapat dilakukan secara teratur.
  • Penimbangan dan pencatatan, untuk mengetahui material yang dikumpulkan.
  • Pemilahan lanjutan, untuk menjaga kualitas material dan mengurangi kontaminasi.
  • Pemulihan dan daur ulang, bagi material yang masih memiliki nilai guna.
  • Pengolahan sesuai karakteristik sampah, untuk material yang tidak dapat dipulihkan dengan cara yang sama.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah modern bukan hanya persoalan memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Yang lebih penting adalah memastikan material yang dikumpulkan mendapatkan penanganan sesuai jenis dan potensinya.

Pastiklola dan Waste4Change Perluas Akses di Bandung

CEO Pastiklola Salva Yurivan Saragih mengatakan kolaborasi dengan Waste4Change dilatarbelakangi kebutuhan masyarakat terhadap layanan penjemputan sampah yang praktis sekaligus memiliki proses pengelolaan yang jelas.

“Pastiklola melihat masih besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan penjemputan sampah yang praktis sekaligus memiliki proses pengelolaan yang jelas. Kolaborasi bersama Waste4Change memungkinkan kami memperluas layanan di Bandung dengan menggabungkan teknologi dan jaringan penjemputan Pastiklola dengan pengalaman pengolahan sampah Waste4Change,” ujar Salva.

Pada tahap awal, layanan tersedia di Kota Bandung. Cakupan layanan selanjutnya akan dikembangkan secara bertahap agar dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga di Bandung dan kawasan sekitarnya.

Kolaborasi tersebut juga memadukan pengalaman Waste4Change dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Jabodetabek dan 12 kota lainnya dengan teknologi, jaringan penjemputan, serta pengalaman operasional Pastiklola di tingkat lokal untuk sektor rumah tangga dan bisnis.

Edukasi Menjadi Bagian dari Pengelolaan Sampah

Selain menyediakan layanan penjemputan dan pengolahan, Waste4Change dan Pastiklola juga berencana mendorong edukasi mengenai pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah.

Langkah ini penting karena perubahan perilaku masyarakat tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana pengangkutan.

Masyarakat perlu memahami bahwa sampah yang dihasilkan memiliki perjalanan setelah keluar dari rumah. Semakin baik sampah dipilah sejak sumbernya, semakin besar peluang material tertentu untuk dipulihkan dan dimanfaatkan kembali.

Karena itu, pemilahan tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari pengelolaan sampah. Pemilahan justru merupakan langkah awal untuk menjaga agar material yang masih bernilai tidak langsung kehilangan potensinya.

Melalui kolaborasi Waste4Change dan Pastiklola, masyarakat Bandung mendapatkan akses terhadap sistem yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir: mulai dari pemilahan di rumah, pemesanan penjemputan melalui aplikasi, pengangkutan, pencatatan, pemilahan lanjutan, hingga pengolahan.

Masyarakat dapat memeriksa cakupan wilayah layanan dan mengakses informasi layanan melalui pastiklola.com/bandung.

Waste4Change Tangani Lebih dari 12.000 Ton Sampah per Tahun

Waste4Change merupakan perusahaan pengelolaan sampah yang menyediakan solusi terintegrasi dari hulu ke hilir bagi individu, bisnis, kawasan komersial, dan perumahan.

Dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), perusahaan menyediakan layanan konsultasi, pengumpulan, pengangkutan, pemulihan material, daur ulang, hingga pengolahan sampah.

Dalam kerja sama, Waste4Change mengoperasikan fasilitas pengelolaan sampah di Bekasi, Bogor, Tangerang, Bandung, dan Bali, serta melayani pengangkutan dan pengolahan sampah di 17 kota.

Setiap tahun, Waste4Change menangani lebih dari 12.000 ton sampah bersama jaringan mitra formal dan informal di berbagai daerah.

Sementara itu, Pastiklola menyediakan layanan jasa angkut dan pengelolaan sampah untuk rumah tangga maupun bisnis. Layanan tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan, kepastian, dan tanggung jawab dalam penanganan sampah, mulai dari penjemputan hingga pengolahan terpadu.

Dengan hadirnya kolaborasi ini, layanan pengelolaan sampah berbasis digital di Bandung tidak hanya menawarkan kemudahan memesan penjemputan. Lebih jauh, kerja sama tersebut memperkenalkan pendekatan yang menghubungkan teknologi, pengangkutan, pemilahan, pencatatan, pemulihan material, dan pengolahan sampah dalam satu rangkaian layanan.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kebiasaan baru: mengurangi sampah, memilah dari rumah, dan memastikan sampah yang telah dipisahkan masuk ke sistem pengelolaan yang jelas.[]